Senja, kalau di Kampung halamanku dikenal dengan istilah “sandikala”.
Saat sandikala adalah saat kita harus pulang dan tidak boleh keluyuran. Saat-saat bake’ (sejenis jin yang serba merah), bebodo (lelembut yang suka menculik anak-anak), serta segala jenis mahluk jahat lainnya, keluar dari perut Bumi. Mereka berkeliaran pada saat-saat seperti ini--dan karenanya, anak-anak tidak boleh berada di luar rumah.
Tentu saja setelah bukan anak-anak lagi aku sudah tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Kalaupun aku masih takut-takut dengan yang namanya jin atau sejenisnya, aku tidak lagi melihat waktu-waktu sandikala sebagai waktu yang seram. Malah, saat mulai remaja—dan berlanjut sampai sekarang—saat Sandikala adalah saat yang agak membingungkan untukku.
Bingung mau diisi dengan kegiatan apa...
Saatnya Tidak Melakukan Apa-apa
Pada saat Sandikala ini (oleh ayahku) kami dilarang ngobrol. Dilarang berdiri di luar rumah. Dilarang nonton TV (padahal jam segini acaranya biasanya bagus). Saat Sandikala adalah saat kita duduk diam, menunggu magribh. Lebih bagus lagi kalau saat seperti ini diisi dengan mengambil air wudhu dan ke Masjid. Yang terakhir ini sangat jarang kulakukan. Kadang dalam waktu sandikala ini, aku duduk saja di kamar. Kadang memaksa diri baca buku. Tapi bahkan membaca buku jam segini rasanya tidak nyaman.
Setelah di jogja, tidak ada lagi yang mengatur . Waktu Sandikala mau diisi dengan nonton film, ngobrol sampai berbusa, ataupun tiduran sambil membaca pun tidak ada yang ngomel (kalau beliau tahu tentu saja dia akan marah). Tapi toh, meski bebas, aku tetaplah bingung. Aku pernah mencoba semuanya. Entah nonton, ngobrol-ngobrol, main game, baca buku, tiduran, tak satupun dari mereka nyaman untuk dilakukan.
Tahun-tahun kemarin sih, saat aku masih aktif di organ, biasanya waktu sandikala bisa kulewati dengan kegiatan di SC (Student Center). Atau pas kerja (iseng-iseng ngajar privat), jam seginian biasanya aku sedang dalam perjalanan pulang.
.
Saat Dunia Mendadak Hening
Well, sekarang aku sudah demissioner dari organ itu. sudah gaek. Bosen juga sebenarnya. Aku juga sudah tidak kerja part time lagi.
Nah loh, sekarang aku menemukan cara yang cukup seru untuk mengisi waktu sandikala ini. Bersepeda. Yups! Ini gara-gara sempat ngambil part time job kemarin. Saat senja, atau Sandikala, aku sedang di perjalanan pulang dan mengayuh sepedaku. Dan karena sebenarnya tempat kerjaku dulu itu tidakterlalu jauh dari kos, aku sengaja mengambil jalan berputar. Saat senja ini, saat langit sedang merah-merahnya, aku biasanya tengah membelah jalan di areal persawahan.
Satu hal yang unik dari Sandikala adalah, selama beberapa detik, dunia seperti mendadak sepi. kecuali kalau saat seperti ini dilewatkan di tengah kota semacam Malioboro, tentu akan lain suasannya. Yang pasti, saat-saat sandikala itu, beberapa menit sebelum azan, atau kadang beberapa menit setelah azan, yang sering kulihat adalah seperti ini:
Orang-orang masuk ke rumah mereka. Lampu-lampu dinyalakan. Orang tua—b iasanya ibu-ibu—memanggil anak mereka. Gerbang ditutup. Suara televisi dinyalakan. Gang-gang dan jalan mendadak sepi. Selama beberapa menit tidak ada suara-suara sama sekali (saat sandikala). Kemudian setelah itu serangga berderik bersahutan. Dan dunia kembali ramai. suara
Imajinasi Waktu
Aku tidak tahu apa persisnya arti dari kata sandikala itu. dari tradisi mana atau dari bahasa apa. (sepertinya dari bahasa Sangsekerta). Saat googling, ternyata sandikala adalah nama seseorang di FB. Sandikala juga judul sebuah novel.
Tapi, kemarin, saat di Yusuf agency dan emmbongkar buku-buku katalog lukisan seperti biasa, ada sebuah lukisan yang dibikin oleh seorang pelukis Bali. (maaf lupa nama pelukisnya). Judul lukisan tersebut adalah: Sandikala: Imajinasi waktu.
Hmm…
Sumber :https://www.google.co.id/url?q=https://rumahreview.blogspot.com/2010/10/sandikala.html%3Fm%3D1&sa=U&ved=2ahUKEwi25vLn6_LYAhXHKo8KHXOSCTcQFjAAegQIExAB&usg=AOvVaw3X288glw3m3KBfKzg009C3

Komentar
Posting Komentar